Jumat, 02 Mei 2014

Mobil Listrik Butuh Kebijakan Komprehensif

UPAYA pengembangan angkutan kota (angkot) listrik di Bogor, Jawa Barat, bisa menjadi benih transportasi umum berbasis energi listrik. Namun, pengembangannya butuh peta jalan (road map) yang komprehensif. “Sebagai pilot project, itu program positif. Namun, harus dimulai dari sekarang karena pekerjaan rumahnya sangat banyak, teknis maupun nonteknis,“ ujar pengamat ketenagalistrikan Fabby Tumiwa kepada Media Indonesia, Jumat (25/4).

Menurutnya, program mobil listrik nasional selama ini berkutat dalam wacana dan men jadi objek pencitraan politik semata. “Perlu ada roadmap yang jelas, memasukkan pengembangan teknologi penyimpanan baterai, efisiensi mesin, infrastuktur, sampai aspek ekonomi, termasuk insentif dan tarif,“ ujar Direktur Institute for Essential Service Reform (IESR) itu.

Ia menilai, pengembangan mobil listrik lebih tepat untuk kendaraan umum ketimbang mobil pribadi. Pasalnya, teknologi mobil listrik di Indonesia masih tertinggal jauh dari negara lain seperti Amerika Serikat. “Tantangannya lebih sulit. Kendaraan umum juga sering berhenti. Itu mengonsumsi lebih banyak energi. Harus ada banyak fasilitas charging,“ paparnya.

Selain itu, pemerintah harus mengembangkan pembangkit listrik yang lebih merata sebagai jaminan pasokan bahan bakar. “Jika hanya mengandalkan listrik dari PLN, hal itu akan memicu lonjakan konsumsi listrik.“

Adapun saat ini mobil listrik memerlukan 4-6 jam pengisian energi untuk jarak tempuh 150-250 km.
Dalam pandangan pengamat transportasi Danang Parikesit, beragam masalah sektor kelistrikan itu bakal membuat program mobil listrik massal sulit terwujud. “Saya dukung program ini karena mengusung semangat zero emission. Namun jangan sampai hanya di atas meja,“ katanya.

Lebih baik, lanjut Danang, pemerintah terlebih dulu mengembangkan angkutan umum tenaga hibrida seperti yang dilakukan Malaysia.

“Mereka pilih hibrida itu karena sumber tenaganya kombinasi antara BBM dan listrik internal. Sebelum masuk teknologi mobil listrik, Indonesia harus expert dulu di hibrida,“ papar Danang, akhir pekan lalu. (Aim/Riz/E-5) Media Indonesia, 28/04/2014, hal : 17