Minggu, 23 Maret 2014

Pemberontakan Mobil Murah Dimulai

Segmen city car yang didukung penuh mobil-mobil LCGC mulai menyalip segmen-segmen yang selama ini cukup favorit seperti hatchback dan SUV.
DUA jempol, bahkan lebih, harus diacungkan kepada segmen city car, khususnya kelas mobil murah ramah lingkungan atau low cost green car (LCGC) karena meroketnya pertumbuhan segmen itu di awal tahun.

Pada dua bulan pertama 2014, mobil murah memulai `pemberontakan' terhadap konstelasi pasar otomotif nasional dengan melewati popularitas sport utility vehicle di posisi kedua, meski low multipurpose vehicle (LMPV) tetap memegang hegemoni.

Data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) yang diterima Media Indonesia menunjukkan, pada Januari-Februari 2014 penjualan city car berakselerasi hingga 591% jika dikomparasi secara year on year (YOY) dengan Januari-Februari 2013.
Agresivitas mobil-mobil perkotaan tersebut disetir model-model LCGC yang menyumbang 30.556 unit, atau 72,92% di antaranya. Adapun bobot aktivitas jual-beli industri roda empat secara total sampai Februari kemarin ialah 215.277 unit.
Syahdan, pangsa pasar city car ikut mendongak juga, dari 3,03% pada Februari 2013 menjadi 19,47% di bulan yang sama tahun kuda kayu.

Sebaliknya, pasar SUV secara akumulatif menukik turun 16,52% dari 22.821 pada tahun ular air ke 19.051 unit, dan cuma berkontribusi 8,85% sejauh ini.

Di sisi lain, pergerakan LMPV sebagai `raja' sejauh ini relatif statis. Transaksi komersial LMPV sebanyak 64.097 unit, hanya naik tipis 244 unit (0,38%), dengan ceruk pasar menurun dari 31,93% setahun silam menjadi 29,77%. Apakah ini mengindikasikan terjadinya pergeseran konsumen?

Direktur Marketing PT Astra Daihatsu Motor (ADM) Amelia Tjandra mengakui tren city car memang meningkat. Laju lambat LMPV, menurutnya, bisa jadi disebabkan oleh peralihan konsumen. Hal itu sudah terbaca dari hasil penjualan mobil nasional sejak Januari.

“(Pangsa pasar LMPV) kan dari 32% (di Januari 2013) menjadi 29%,“ tuturnya kepada Media Indonesia, awal Maret di Jakarta. Adapun pangsa pasar city car di bulan perdana itu, menilik data Gaikindo, menjulang dari 2,23% menjadi 18,77%.
Wakil Presiden Direktur PT Hyundai Mobil Indonesia Mukiat Sutikno menilai kehadiran LCGC pasti berdampak pada pengikisan konsumen LMPV.

“Mengikis sedikit pasti ada, tapi tetap tidak mungkin mengalahkan potensi LMPV,“ tandasnya ketika dihubungi Media Indonesia.
Melangitnya pamor LCGC sendiri, menurut Mukiat, tak lepas dari faktor harga. Dengan banderol puluhan hingga seratusan juta rupiah, LCGC mengisi posisi yang ditinggalkan LMPV. LCGC ialah opsi bagi keluarga baru nan kecil.
Pemegang takhta Lalu, apakah kemudian tampuk kepemimpinan industri otomotif Indonesia kelak berpindah dari LMPV ke LCGC? Amelia, juga Mukiat kompak berkata tidak.

“Yang paling utama (dari data Gaikindo) ialah bahwa LMPV secara absolute amount enggak turun,“ tandas Mukiat mewanti-wanti. Ia menuturkan LCGC adalah mobil kedua para pemilik LMPV atau pilihan pertama pasangan yang baru berumah tangga.
“Sekali mereka sudah punya anakanak, pasti kejarnya ke LMPV itu. Karakter pasar sudah seperti itu. Sudah keharusan, di sebuah keluarga ada seven seater MPV,“ tukasnya.

Amelia sependapat LMPV sejauh ini tetap menjadi model kesukaan masyarakat.
“Kalau yang paling laku berdasarkan survei tetap saja MPV. MPV menjadi pilihan banyak masyarakat,“ lontar Amelia. Ia percaya pula walaupun pangsa pasar LMPV di masa depan menurun, secara volume penjualannya akan tetap menunjukkan peningkatan dan tetap menjadi sang pemegang takhta dengan pasar terbesar.

Pun begitu dengan pandangan Direktur Pemasaran dan Penjualan PT Suzuki Indomobil Sales Davy Tuilan. Ia mengungkapkan, bagaimanapun saat ini LMPV tetap akan menjadi pasar terbesar Indonesia. Kendati begitu, ke depannya ada kemungkinan LCGC terus menggerus ceruk pasar LMPV.

Perihal sepak terjangnya di 2014, Davy melihat ada kemungkinan segmen yang saat ini diisi oleh Toyota Avanza, Daihatsu Xenia, Honda Mobilio, Suzuki Ertiga, dan Chevrolet Spin tersebut turun tipis atau sama secara pangsa pasar, tepatnya di kisaran 28%-30%. “Pasar LMPV maksimal di 28%-30%.

Bahkan ke depannya (LMPV) bisa turun sampai 25%,“ ujarnya via pesan singkat kepada Media Indonesia, Selasa (18/3).
Dalam beberapa tahun ke depan, segmen LMPV mungkin masih akan menjadi penguasa pasar otomotif Tanah Air.
Namun, yang patut dicatat, mulai tahun ini, `pemberontakan' dari segmen city car, utamanya kelas mobil murah, telah dimulai dan akan terus meneror sang penguasa. (S-220/03/MEDIA INDONESIA,20/03/2014,HAL 22/23)