Sabtu, 08 November 2014

Saatnya Menyelamatkan Kain Tenun Using

PEMERINTAH Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, belum sepenuhnya merespons keberadaan jarit keluwung. Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) serta Dinas Perindustrian dan Pertambangan (Disperindagtam) Kabupaten Banyuwangi berbeda pendapat tentang upaya melestarikan jarit keluwung. Disbudpar menilai jarit keluwung harus dilestarikan, sedangkan Disperindagtam berpendapat sebaliknya.

Kepala Disbudpar Banyuwangi M Yanuar Bramuda menjelaskan jarit keluwung merupakan produk budaya, sejarah, dan identitas Banyuwangi. Apalagi perajin jarit keluwung hanya tinggal satu orang, Siyami, warga Dusun Ndelik, Desa Jambesari, Kecamatan Glagah. Apabila tidak ada langkah pelestarian, jarit keluwung akan ada di ambang kepunahan. Yanuar pun mengakui selama ini dinas yang dipimpinnya hanya melihat jarit keluwung ketika sedang berlangsung upacara adat suku Using di Desa Kemiren, tanpa tahu siapa pembuatnya.

Kain klasik itu banyak dipergunakan sebagai syarat upacara adat kelahiran bayi, pernikahan, hingga upacara pemakaman. Secara historis, jarit keluwung berkaitan erat dengan suku asli Banyuwangi meski sampai sekarang masih dikaji.“Kain kuno tersebut berciri khas pada motif yang klasik dengan warna merah dan hitam. Warna ini bagian dari identitas suku Using,“ imbuh Yanuar.

Pihaknya, lanjut Yanuar, merasa perlu menyiapkan langkah konservasi dalam waktu dekat. Ia melihat ada peluang pengembangan pada jarit keluwung, dengan melakukan inovasi berupa penciptaan motif-motif baru. Namun, motif baru itu tidak meninggalkan ciri khasnya sebagai kain yang ikonis.

Lebih penting lagi ialah mencetak generasi penerus sebagai perajin yang akan menyelamatkan jarit keluwung. Namun, upaya penyelamatan itu membutuhkan perencanaan, kerja keras, dan keseriusan. Dalam waktu dekat, Disbudpar akan menggandeng budayawan, seniman, dan sejarawan untuk menyelamatkan kelangsungan jarit keluwung sebagai salah satu khazanah budaya Indonesia.

“Budayawan, seniman, dan sejarawan perlu dilibatkan dalam upaya pelestarian jarit keluwung ini karena ini produk budaya dan sejarah. Kita akan dukung penuh dalam pelestariannya,“ tambah dia.

Sebaliknya Disperindagtam Banyu wangi bersikap sebaliknya. Kepala Disperindagtam Banyuwangi, Hari Sucahyo, mengaku belum pernah membina perajin jarit keluwung. “Karena animo pasar terhadap kain tenun itu masih rendah,“ ujarnya beralasan.
Selama ini Disperindagtam lebih berorientasi pada bisnis sehingga perajin yang dibina mampu menghasilkan produk yang sudah bisa dikategorikan dalam kelompok industri kecil dan menengah. Hari membandingkan antara jarit keluwung dan batik banyuwangi secara umum tanpa mendefinisikan subproduk tradisional dengan produk repro atau kreasi.

Menurutnya, bahan baku dan hasil produksi batik lebih murah sehingga daya beli batik lebih terjangkau masyarakat. Sebaliknya, jarit keluwung hanya diminati orang-orang tertentu karena tergolong kain mahal. Padahal di pasaran, harga batik berbagai jenis, mulai tulis, cap, hingga kombinasi cap dan tulis, juga beragam. Harga batik tulis paling mahal karena proses produksinya paling lama dan rumit, sama halnya dengan jarit keluwung.

Batik tulis banyuwangi pun sempat mati suri seperti halnya jarit keluwung.Atas dasar itu Disperindagtam lebih berkonsentrasi memperbanyak tenaga dan pengusaha batik untuk menyelamatkan batik banyuwangi. “Saat ini kami masih konsentrasi memperbanyak tenaga dan pengusaha batik. Kain tenun jarit keluwung hanya diminati orang tertentu karena mahal harganya. Berbeda dengan batik cap, harganya lebih terjangkau masyarakat,“ tegasnya lagi. (KH/N-4) Media Indonesia, 5/11/2014, halaman 23